Hujan dan Cinta


wpid-wp-1434616852184

Hujan tak lagi sederhana ketika kau mengenal cinta,
Ia, sang hujan menemukanmu dalam berbagai sudut bahasa,
Di pelepah daun pisang,
Di payung merah jambu,
Di gubuk tua,
Di api unggun kecilmu.

Aku tersentak kaget saat melihat kau yang tiba-tiba datang membawa pelepah daun pisang, “maaf aku lupa membawa payung, dengan ini saja ya?” Dan aku pun tersenyum.

“Tak adakah warna yang lain?” Tanyamu ketika di lain hari aku membawakan payung berwarna merah jambu.
“Menurut saja kali ini, kau lebih manis jika menurut” rayuku.

Setelah lelah berjalan di bawah payung merah jambu, kita berteduh di gubug tua, kau melepas jaketmu dan memakaikannya untukku.
“Masih dingin ya, sebentar sayang” Kau berlalu di lima belas menit itu, dan kembali membawa jerami yang kemudian kau nyalakan dengan pemantik, lalu kau bilang “kuharap api unggun kecil ini akan mengahangatkanmu.”

Kekasih,
Malam ini hujan kembali menyapaku,
Hanya hujan,
Tanpa cinta,
Tanpa dirimu,
Hanya membawa sepaket kenangan yang tiba-tiba saja mengguyur deras ingatanku.

 

Iklan

13 thoughts on “Hujan dan Cinta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s