Kado untuk Ian ( Part 2 )

Fly away my kite!

35th-Bali-Kite-Festival-Festival-Layang-layang-Bali-ke-35_1400502206

27 Juli 2014.

Flashback ke masa kecil itu ternyata menyenangkan. Baru kusadari, anak kecil berusia 5 tahun bisa lebih pintar dariku, jadi sedikit menyesal ketika kutolak tawaran Petra, adek lelakiku saat mengajakku bermain layang-layang.

Melayangan.

Adalah tradisi turun-temurun dari masyarakat Bali yang diadakan setiap satu tahun sekali pada musim angin biasanya di bulan Juli – akhir bulan Agustus untuk mengenang Dewa Siwa dalam manivestasinya menjadi Rare Angon ( Dewa Layang-layang ). Pada musim layangan atau setelah panen di sawah, Rare Angon dipercaya akan turun ke bumi diiringi dengan tiupan seruling pertanda untuk memanggil sang angin. Rare Angon berarti anak gembala, setelah musim panen, para petani terutama anak gembala mempunyai waktu senggang yang mereka gunakan untuk senang-senang. Sambil menjaga ternaknya, salah satu permainan yang sering mereka lakukan adalah bermain layang-layang. Masyarakat Bali percaya bahwa layang-layang mempunyai nilai kesungguhan yang menonjol bukan hanya sebagai benda kosong tanpa nilai, melainkan mempunyai badan, tulang dan roh. Lanjutkan membaca “Kado untuk Ian ( Part 2 )”