Gadis – Farhan ( last episode )


Chapter 5 : Mate Versus love

heather-h-cotton-1

Kemarau di bulan Mei terasa sangat terik.

Kulihat burung-burung gereja mulai bertengger di atas jendela kamarku.

Mereka sepertinya sangat menikmatinya. Seperti sedang memadu kasih, mereka mengeluarkan bunyi cericit yang cukup nyaring dan bersaut-sautan. Hmmmm, kurasa mungkin itu adalah panggilan sayang untuk kekasihnya.

Bunga mawar di kebun kecilku juga mulai bersemi, meski kulihat dari kejauhan tapi aku bisa merasakan semerbak harumnya.

Dan matahari juga tak mau kalah. Ia menyinariku dengan lantang! Setiap hari sinarnya semakin panas saja. Sepertinya ia mencoba menyemangatiku.

Semua menyambut indah kemarau ini, tapi aku?

Hhhhhhh,

Aku masih terkurung dalam rasaku.

Farhan, bagaimana kabarnya ya?

Sejak kejadian dua minggu lalu aku tak lagi berani menemuinya.

Tapi, aku merasa keterlaluan. Padahal baru sekali Farhan berkata kasar padaku, dan kalau kupikir lagi, itupun untuk kebaikanku, tapi aku? Walau sering sekali aku berkata kasar padanya, ia tak pernah marah padaku. Kurasa aku harus meminta maaf padanya. Ya, kali ini, untuk yang terakhir, aku ingin bertemu dengannya dan meminta maaf.

“Gadis, sepuluh menit lagi ya? Kau sudah siap kan sayang?” suara mama mengagetkanku.

“i…iya ma” jawabku lesu dan tak yakin.

Ternyata mama memperhatikan raut wajahku, ia mendekat dan menepuk punggungku pelan.

“Gadis percaya mama kan?”

Aku mengangguk.

“Ridwan adalah orang yang baik, mama yakin, ia pasti bisa membahagiakanmu sayang, tak akan sulit mencintai lelaki sebaik ia, Gadis hanya perlu membuka sedikiiiiiit saja ruang di hati Gadis” mama mencoba meyakinkanku.

“Iya ma, Gadis ngerti. ma, bolehkah Gadis pergi ke kebun Gadis sebentar?” aku tak kuasa menahan tangis.

“Boleh sayang, tapi hanya sepuluh menit saja ya?”

“Iya ma.”

Sepuluh menit adalah waktu tersingkat bagiku untuk berbicara dengan Farhan, karena aku biasa berlama-lama dengannya, apa itu cukup?

Aku berlari saja, pasti cukup!

Akupun berlari sekencang-kencangnya, aku bahkan tak peduli kalau pakaian yang kukenakan ini sangat membuatku kesulitan meski hanya untuk berjalan.

“Farhan…Farhan…kau dimana? Bisakah aku berbicara denganmu sebentar? Aku mau minta maaf, maaf karena kata-kataku kemarin keterlaluan, kumohon datanglah!”

Sambil menunggunya aku mengamati sekeliling,

Aku sekarang tepat berada di depan sungai kecilku.

Segera kulepas sepatuku, kutarik rok bajuku sampai selutut lalu kubenamkan kakiku di sana.

Rasanya sangat nyaman.

Kuamati diriku sendiri, aku mengenakan baju serba putih, kerudung putih, penuh dengan bunga melati yang wanginya hampir membuatku pusing, kebaya putih, dan rok berwarna putih. Ternyata aku cantik juga ya?

Aku jadi berpikir, akan sangat cocok jika aku bersanding dengan Farhan, karena ia juga selalu berpakaian serba putih.

“Sudah kumaafkan, aku tak akan pernah bisa marah padamu nona” suara Farhan mengagetkanku.

“Farhan, sejak kapan kau ada di situ?” aku beranjak dari tempatku dan mendekatinya.

“Cukup lama, aku perlu waktu untuk bisa melihat dengan teliti kecantikan nonaku” Farhan tersenyum.

“Kau juga sangat tampan, apa kau tahu Farhan? Saat ini kita sangat serasi…kenapa bukan kau? Kau saja yang jadi suamiku Farhan” masih kulihat ia dengan tatapanku yang memelas, aku benar-benar tak bisa mengendalikan diriku, aku menangis sejadi-jadinya, seluruh kekuatan yang kukumpulkan dua minggu lalu, rasanya hancur berkeping-keping di depan Farhan.

“Aku merelakanmu bukan tanpa alasan nona, aku bisa melihatnya dari sini, ia orang yang sangat baik, kau pasti akan bahagia dengannya”

Kata-kata Farhan kali ini membuatku bingung, aku benar-benar tak mengerti.

“Apa maksudmu Farhan?”

“Kita mungkin berbeda di dunia, biarlah aku mengalah untuk saat ini, tapi jika aku diberi kesempatan masuk ke surga-Nya yang maha indah dimana semua permintaan akan dikabulkan, aku akan meminta satu hal! Agar aku bisa bersamamu selamanya, di sana aku yakin, tak akan ada yang memisahkan kita, nonaku sayang”

Mataku terbelalak mendengar kata-kata Farhan, kulihat ia menangis.

Oh Tuhan, ternyata Farhan juga mencintaiku, dan akuaku telah melukainya, melukainya begitu dalam!

Aku segera memeluknya. Meski yang kudapati adalah memeluk diriku sendiri tapi aku tak peduli.

“Kenapa harus menunggu di surga? Sekarang saja. Kalau aku tak bisa menyentuhmu, kau saja yang berubah menjadi manusia! Dengan begitu, aku pasti bisa menyentuhmu kan?” kucoba meyakinkannya.

“Aku tidak mau, itu bukan diriku! Aku lebih suka menjadi diriku yang sebenarnya…percayalah padaku nona, perasaannya sangat tulus padamu”

“Kau juga tulus dan sangat menyayangiku”

“Tapi aku berbeda, aku tak bisa melihatmu menderita, aku mencintaimu karena itu aku melepaskanmu”

“Apa kau tidak takut jika nanti aku mencintai ka Ridwan?”

“Aku justru bersyukur, karena dengan begitu kau tak akan terluka. Asal kau bahagia, aku ikhlas. Aku harus pergi sekarang nona, sepuluh menitmu sudah habis, pergi dan menikahlah dengannya!”

Farhan menatapku tajam, tatapan itu seperti sebuah perintah yang harus kulaksanakan.

“Apa kau akan kembali?”

“Tidak!”

“Lalu bagaimana denganku jika kau pergi?”

“Kau punya Ridwan, kau tidak lagi membutuhkanku nona”

Kulihat Farhan menjauh dariku, bayangan putihnya semakin lama semakin memudar, dan kini hilang tak berbekas lagi.

Ia pergi dengan senyum, meninggalkanku sendirian di sini.

Rasanya tubuhku lemas sekali, aku tak lagi punya kekuatan untuk berdiri, aku jatuh terduduk di depan sungai kecilku, entah untuk ke berapa kalinya airmataku menetes di sana.

“Farhaaaaaaannnnnnn! Kembaliiiiiiiiiiiii….!!!!! Jangan tinggalkan aku sendiriaaaaaannnn!”

Aku berteriak sekencang-kencangnya tapi tak ada perubahan apapun. Farhan benar-benar telah pergi dariku.

Aku tak lagi berniat meneruskan pernikahan ini, aku mau membatalkannya saja.

Aku juga tak peduli Farhan mau datang atau tidak! Aku benar-benar shock!

Setengah jam sudah berlalu, aku terus saja melantunkan kalimat-kalimat terindah-Nya, seperti yang diajarkan Farhan padaku.

Aku berharap kali ini ada keajaiban. Farhan datang kembali atau apalah yang penting aku tidak jadi menikah hari ini, aku bahkan tak peduli kalau semua orang sedang sibuk mencariku sekarang, pikiranku benar-benar buntu.

“Gadis, di sini kau rupanya, ayo sayang, kita harus pergi sekarang, acaranya sudah mulai.”

Ternyata papa berhasil juga menemukanku.

Aku menoleh padanya, kulihat papa kaget melihat wajahku yang kusut dengan mata yang sembab.

“Kau kenapa sayang? Kenapa jadi begini?”

“Pa, tolong batalkan pernikahan ini pa, Gadis nggak mau menikah dengan ka Ridwan! Papa sayang Gadis kan? Tolong penuhi permintaan Gadis, kali iniiii saja, Gadis mohon!” aku menjatuhkan tubuhku di pangkuan papa, berharap papa memenuhi permintaanku.

“Ada seseorang yang terluka di sana, seseorang yang sangat kucintai…seseorang yang telah berbuat banyak untukku. Aku tak bisa melihatnya terluka.”

Aku merasakan tangan papa mengelus-elus kepalaku, itu kebiasaan yang selalu papa lakukan untuk menenangkanku dan selalu berhasil, kali ini pun aku jadi berhenti menangis karena sentuhan ajaib dari tangannya.

Aku bangun dari pangkuannya, kulihat sorot mata papa yang teduh, ia masih menatapku dengan senyum tanpa sedikitpun memarahiku.

“Siapa ia? Kenalkan pada papa, papa janji akan membantu Gadis, asalkan ia ada di sini dan mau menemui papa” masih dengan tenang papa menanyakan Farhan padaku.

Bagaimana mungkin aku mengenalkan Farhan pada papa? Apa mungkin papa bisa melihatnya?

Dan Farhan juga tidak ada di sini, entah dia kemana.

“Ia tidak bisa datang pa, ia baru saja pergi dan mungkin tidak akan pernah kembali” jawabku lesu.

“Kalau begitu jangan meminta papa membatalkan pernikahan ini karena lelaki itu tidak benar-benar mencintaimu”

“Ia benar mencintaiku pa, tapi…”

Ah sudahlah, berapa kalipun aku membela diriku rasanya percuma karena Farhan tak mungkin kembali.

“Gadis, papa yakin Gadis sudah dewasa, Gadis juga tahu bagaimana harus bertanggung jawab atas keputusan yang Gadis ambil. Kalau Gadis membuat lelaki sebaik Ridwan terluka, apa Gadis tidak takut pada murka Tuhan? Bagaimana Gadis akan mempertanggungjawabkan semua ini di hadapan-Nya kelak?

Apa Gadis yakin tidak takut dengan murka-Nya?”

“Hhhhhhh, jadi Gadis harus bagaimana pa?”

“Hiduplah dengan tegar dan hadapi semuanya! Tapi kalau Gadis masih tetap ingin membatalkannya, Gadis bisa mengatakannya sendiri di hadapan Ridwan”

Papa selalu bijaksana, bahkan dalam hal seperti ini pun papa masih saja bisa berpikir tenang. Harusnya aku bersyukur memilikinya. Dan harusnya aku juga mewarisi sifat bijaksananya itu.

Aku menyeka sisa-sisa airmata yang menetes di wajahku, lalu bangkit dari dudukku, aku juga menarik tangan papa agar berdiri bersamaku.

“Ayo pa, Gadis siap! Gadis akan menikah hari ini, Gadis minta doa dan restu papa, agar Gadis bisa hidup bahagia dengan ka Ridwan” aku pun tersenyum yakin.

“Ini baru anak gadis papa”

 

 

 

21th June 2015 at 20.53 pm

 

Dear diary,

Hari ini tepat sebulan pernikahanku dengan ka Ridwan,

Dulu aku sangat pesimis. Apa aku bisa mencintainya?

Sementara di hatiku masih tersimpan bayangan Farhan.

Tapi malam itu, semuanya berubah.

Ka Ridwan berkata padaku, “Dek, apa kau bahagia menikah dengan kakak?”

Aku hanya mengangguk pelan karena tak  yakin,

I…iya ka” jawabku

“Terimakasih telah bersedia menjadi istriku, kak Ridwan tahu Gadis belum bisa mencintai kakak, tapi kakak janji, tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang Gadis berikan pada kakak, kakak akan menunggu sampai Gadis mencintai kakak”

Kupikir ka Ridwan tak serius dengan kata-katanya,

Tapi itu benar diary. Ia sama sekali tak menyentuhku.

Kejadian itu berlangsung selama 1 bulan.

Aneh kan?

Entahlah kupikir semua keanehan yang terjadi padaku sudah berakhir,

tapi ternyata belum! Ini jauh lebih aneh dan paling aneh!

Tapiiiiiiii,

Kenapa aku jadi tak tega padanya ya?

Aku jadi ingat pesan terakhir papa sebelum aku menikah, bahwa aku harus bertanggung jawab atas keputusan yang kuambil,

aku juga ingat pesan mama, aku hanya perlu membuka sedikit saja ruang di hatiku untuknya.

Jadi kuputuskan mengakhiri keanehan ini,

Aku bilang, aku akan belajar mencintainya.

Dan kau tahu diary, malam-malam yang terjadi setelah itu?

Ssssstttttttttt! Tidak akan kuberi tahu! Bahkan diary pun tak boleh tahu!

Cukuplah ini menjadi rahasiaku dengan ka Ridwan.

Tapi bisa kukatakan dengan tegas saat ini

AKU MENCINTAI  KA RIDWAN,

AKU MENGHORMATINYA,

AKU AKAN SETIA PADANYA,

BAHKAN DI SURGA PUN, AKU TAK MAU MEMBERIKAN DIRIKU PADA FARHAN!

HANYA KA RIDWAN YANG BERHAK ATAS DIRIKU!

 

Dan tentang makhluk indah itu, ia akan selalu ada dalam hatiku,

aku menguncinya di sudut hati, ada ruang khusus untuknya,

ruang yang akan selalu menjadikannya kenangan terindah.

Selamat tinggal Farhan, terimakasih atas semuanya. Aku tak akan melupakanmu,

semoga kau juga menemukan keindahan seperti yang kurasakan.

Aku yakin! Kelak kau akan bahagia meski tanpaku,

seperti kau yang juga yakin, aku bisa bahagia tanpamu.

 

 

 

Ini bulan puasa pertamaku dengan ka Ridwan,

Aku sangat bahagia.

Terimakasih Tuhan telah mengizinkanku melalui peristiwa demi peristiwa yang membawaku pada keindahan ini.

Aku menyayangi-Mu, meski tak sebesar kasih sayang-Mu padaku, tapi aku janji!

Akan lebih mencintai-Mu di setiap waktuku.

 

Iklan

3 thoughts on “Gadis – Farhan ( last episode )

  1. Reblogged this on Cinta1668 and commented:

    Dan guys…..

    Ternyata Gadis bahagia, meski ia tak percaya di awalnya.

    Ternyata Gadis bisa tersenyum, meski tanpa Farhan, sosok indah yang selalu dikaguminya.

    Dan ternyata Gadis bisa Cinta.

    Dan aku, Cinta, pemilik utuh cerbung ini bisa berkata :

    “Aku selalu percaya, masih percaya dan akan mencoba percaya, tidak ada yang tidak mungkin, bukan hanya dari kosakata hati dan pikirku saja, melainkan jauh ke depan, pada keajaiban Tuhan.

    Dia Yang Maha Memungkinkan,

    Dia pemilik mutlak jaringan berwarna merah tua di dekat jantung. Ya, Dia pemilik hati setiap manusia.

    Cinta hanya harus sedikit lebih bersabar, dan menunggu 1000 keajaiban-Nya.

    Dan karena Cinta juga yakin, harapan indah, yang Cinta yakini secara terus-menerus, energi positifnya akan menyebar kepenjuru semesta yang insya Allah akan menjadi doa indah dan dikabulkan oleh Sang Maha Pemilik Jagad Raya”

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s