Gadis – Farhan ( Part 4 )


Chapter 4 : Goodbye Farhan

635838462432026944886109881_goodbye-for-now-blog

Jika yang kau cinta bukan jodohmu, bersabarlah.

Karena Dia Sang Maha Cinta,

Dia-lah yang menentukan “takdir cinta”

Dia juga yang akan menciptakan cinta,

cinta yang lebih dari yang pernah kau kira,

Cintacinta yang benar-benar cinta!


Mama dan papa kini sudah benar-benar rujuk.

Kami sudah tinggal bersama lagi seperti dulu.

Mama mengundurkan diri dari posisi direktur, kini ia hanya menjadi komisaris yang mengawasi perusahaan, jadi ia punya lebih banyak waktu luang untuk kami.

Aku sangat bersyukur atas semua ini.

Tapi…akhir-akhir ini aku mulai menangkap gelagat aneh!

Sejak kedatangan ka Ridwan sebagai guru ngajiku, lalu kedekatan kami sebulan ini, aku merasa ada yang janggal.

Dan benar! Ternyata ka ridwan telah dijodohkan denganku.

Bagaimana ini? Aku bingung. Karena di hatiku telah bersemayam satu nama “Farhan”.

“Farhan  Farhan   Farhan

Farhan   Farhan   Farhan

Farhan   Farhan   Farhan…”

Seperti sedang berdzikir, aku terus saja menggumamkan nama itu.

Farhan, kau kemana? Aku membutuhkanmu.

Farhan datanglah! Ada sesuatu yang harus kukatakan padamu.

Aku tak bisa memutuskan sebelum kukatakan rasa ini padamu.

Aku menyukaimu, sejak kau memberiku tasbih itu.

Aku menyukaimu, sejak kau mulai peduli padaku.

Aku menyukaimu, karena kau satu-satunya orang yang masih mau berteman denganku saat semua orang menganggapku aneh.

Aku tak peduli apapun jawabanmu, aku hanya ingin kau tahu.

Setelah itu akan kuputuskan, apakah aku akan menikah dengan ka Ridwan atau hanya akan menyimpan namamu saja dalam hatiku.

“Farhan  Farhan   Farhan

Farhan   Farhan   Farhan

Farhan   Farhan   Farhan…”

 

Aku masih saja menggumamkan nama itu.

Sambil mengamati sekeliling, aku mulai mengingat kembali kisahku.

Di kebun inilah aku bertemu dengannya.

Sosoknya yang sederhana dengan pakaian serba putih, senyum yang menawan, dan tutur kata yang selalu saja membuatku merasa diperhatikan. Farhan, kau benar-benar membuatku jatuh cinta.

“Ehm, kenapa nona? Dari tadi suaramu berisik sekali! Mengganggu saja!” kata-kata Farhan yang tiba-tiba mengagetkanku.

Oh Farhan, dari jarak sedekat ini kau terlihat begitu tampan. Pakaian putih yang kau kenakan membuatmu semakin rupawan, dan bau wangi ini, aku sangat suka! Penuh dengan aura kebaikan.

“Hai nona, tadi kau mencariku kan? Terus kenapa sekarang malah senyum-senyum begitu? Sebenernya ada yang mau dibicarakan nggak sih? Kalau nggak aku pergi ni!” nadanya agak memaksa.

“Tu…tunggu! Emang ada kok yang mau kubicarakan, aku cuma heran saja, bisa nggak sih jangan datang tiba-tiba gitu? Senang sekali mengagetkan orang.”

“Ok, fine…mau ngomong apa sih, nonaku yang cantik? ”

“Jangan bercanda, aku serius ni, sebenernya hari ini aku dilamar, tapi aku bingung.”

Sambil memperhatikan mimik wajahnya aku melanjutkan perkataanku.

“Namanya ka Ridwan, ia guru ngaji yang sengaja didatangkan papa untuk mengajariku, kebetulan ia bekerja di perusahaan mama, ia terkenal anak yang rajin, tekun, ulet, santun, dan baik hati”

“Kalau semua yang kau katakan itu benar, kenapa jadi bingung? Bukankah itu bagus? Terima saja”

Aneh, aku tak menemukan perubahan di wajahnya. Padahal aku mengharapkan ia sedih, kaget, atau menyesal mungkin, tapi kok nggak ya?

“Hfffffffttttt, jadi begitu ya?” nadaku sedikit kecewa.

Kulihat ia mengangguk yakin.

“Aku menyukaimu!” kalimat itu tiba-tiba keluar dari bibirku.

“Apa? ” kulihat Farhan mengernyitkan kening.

“Aku menyukaimu, karena itu aku bingung, tapi yang lebih membingungkan lagi adalah kenapa kau sama sekali nggak kaget dengan semua ini? Apa aku pernah menjadi penting dalam hidupmu Farhan? Jawablah!” aku memelas, berharap jawaban Farhan seperti air bening yang mampu menghilangkan dahagaku.

“Kurasa nggak penting aku menyukaimu atau tidak, karena ia jauh lebih baik dariku,” jawab Farhan dengan senyum.

“Bukan itu jawaban yang kuinginkan. Jawab saja iya atau tidak?”

“Sentuhlah aku, kau akan tahu…” masih dengan senyum Farhan berkata padaku.

“Maksudnya?” aku bingung.

“Ayo sentuhlah!” Farhan meyakinkanku kali ini.

Aku membalas senyumnya sambil mengangguk. Dalam hati aku berdoa, berharap setelah ini Farhan akan menjawab pertanyaanku, entah kenapa aku sangat yakin kalau ia juga menyukaiku.

Hah, apa ini? Kenapa aku tak bisa menyentuhnya?

Tenang Gadis, tenang. Mungkin tadi itu memang belum tersentuh, aku harus mencobanya lagi.

Kali ini aku pasti bisa menyentuhnya.

Tapi….tidak. Tidak mungkin! Kenapa aku tak bisa menyentuhnya?

Apa ini? Apa aku sedang bermimpi?

Tuhan, tolong bangunkan aku. Ini pasti mimpi kan?

“Apa kau bisa menyentuhku nona?” pertanyaan Farhan mengagetkanku.

“Pasti bisa! Aku baru mencobanya dua kali, aku pasti bisa menyentuhmu kali ini, atau…atau aku akan belajar agar aku bisa menyentuhmu. Meskipun butuh waktu lama, a…aku…aku pasti bisa! Pasti…pasti bisa menyentuhmu! ”

Aku tak kuasa lagi menahannya, bulir bening ini semakin deras membanjiri pipiku,

Aku tak tahu apa yang kurasakan sekarang. Semua pikiranku berkecamuk jadi satu.

Aku berharap ini hanya sebuah mimpi, dan aku ingin cepat bangun dari mimpi ini.

Aku mencoba menyentuh Farhan lagi dan lagi. Tapi semakin kucoba, aku semakin tak bisa menyentuhnya.

Akhirnya aku sadar, bau wangi yang mistis ini, pakaian yang serba putih ini, kemunculannya yang selalu tiba-tiba, karena ia adalah…

Kenapa aku tak pernah menyadarinya?

Tapi sudahlah, itu tidak penting. Karena aku menyukainya. Apapun ia aku tetap menyukainya.

Dulu semua orang bilang aku aneh, lalu apa salahnya kalau aku juga menyukai makhluk yang aneh?

Farhan lebih indah dari manusia, ia makhluk terindah yang pernah kutemui.

Apapun ia, aku cinta! Jika ia bisa menerimaku, kenapa aku tidak bisa?

Aku akan membujuknya, aku pasti bisa!

“Kau tak usah membujukku, aku bisa dengar kata hatimu nona, coba dengar  kata-kataku ini.

Bagaimana aku bisa menikah dengan orang yang tak bisa menyentuhku?

Bagaimana mungkin aku hidup dengan orang yang bisa tua dan keriput, sementara aku akan tetap muda selamanya? Aku bukan dari bangsamu, aku ini hanya menganggapmu teman. Kau sangat naif jika berpikiran seperti itu. Usiaku ini sudah ribuan tahun, apa kau mengerti?

Menikahlah dengannya, aku tahu ia orang yang baik, kau akan bahagia dengannya Nona.”

Kata-kata Farhan kali ini benar-benar membuatku tersinggung.

Aku bisa menerimanya, apapun ia, tapi ia? Ia bilang aku naïf. Ia juga bilang kalau aku bisa tua dan keriput! Oh Tuhan, aku benar-benar terluka.

“OK, Aku memang tidak sepertimu, Jadi jangan pernah lagi muncul di hadapanku! Aku juga akan memenuhi permintaanmu, aku akan menikah dengan ka Ridwan, selamat tinggal Farhan!”

Aku berlari tanpa menoleh lagi padanya. Kejadian hari ini benar-benar membuatku terluka.

Iklan

One thought on “Gadis – Farhan ( Part 4 )

  1. Reblogged this on Cinta1668 and commented:
    Hari ini, aku merasa menjadi Gadis.

    Ya, Gadis, seorang perempuan dalam imajinasiku yang tidak bisa menang dalam cintanya.

    Lalu, apakah Gadis akan bahagia pada akhirnya?

    Apa ia bisa cinta?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s