Gadis – Farhan (Part 3)


Chapter 3 – Thanks God, I am not alone anymore.

Valentine heart

 

Malam ini, seakan semuanya ikut larut dalam harapanku.

Harapan akan datangnya sebuah perubahan.

Ya, aku masih tetap menanti kuncup-kuncup harapan ini mekar.

 


“Uk…uk…uk…uk…uuuuuuukkkk!

Uk…uk…uk…uk…uuuuuuukkkk!

Uk…uk…uk…uk…uuuuuuukkkk! “

Suara ayam berkokok sayup terdengar di telingaku.

Seolah mencoba mengganggu kenyamanan ini.

Rasanya aku sedang bermimpi, mimpi yang begitu indah hingga aku benar-benar tak rela ada yang membangunkanku dari mimpi indah ini.

“Gadis kecilku, ayo bangun sayang, jangan malas gitu dong! Pamali atuh neng, ayo bangun, kita sholat subuh berjamaah. ”

Suara ini, suara ini, sangat familiar, ini seperti suara papa! Oh Tuhan, apa aku sedang bermimpi? Kalau begitu jangan Engkau bangunkan aku, biarkan aku lebih lama berada dalam mimpi indah ini.

Aku ingin mengungkapkan sejuta kerinduanku padanya,

ingin bermanja-manja lebih lama di pelukannya,

Aku juga ingin mengadukan semua perasaanku yang tak pernah mampu lagi kukatakan pada mama. Seperti anak kecil yang sedang mengaduh kesakitan, aku juga sama. Aku sedang kesakitan di sini. Aku…aku….aku….ingin lewat mimpi ini papa juga merasa bahwa Gadis kecilnya masih sangat membutuhkannya. Aku mau merayunya agar mereka kembali berbaikan.

Aku mau papa mengerti. Ya, papa selalu mengerti. Dan pasti kali ini papa juga mau mengerti.

“Gadis ayo cepat bangun!”

Kenapa suara ini jadi begitu nyata? Apa papa benar-benar ada di sini?

Ah, tapi apa mungkin?

“Hai, ayo bangun!”

Penasaran membuatku cepat-cepat membuka mata, dan benar, kutemukan papa di sampingku, dengan senyum khasnya ia menyapaku, sejuk sekali rasanya.

“Papa!”

Aku segera memeluknya, erat sekali.

“Papa kemana saja? Kenapa baru datang sekarang? Gadis kangeeeeen!” manjaku padanya.

Kulihat raut muka papa telah banyak berubah. Padahal baru tiga bulan papa pergi dari rumah ini.

Pipinya lebih cekung sekarang, gurat-gurat di keningnya juga semakin banyak, papa jadi terlihat tua karenanya. Dan sorot matanya itu seolah menggambarkan kesedihan yang selama ini ia coba sembunyikan.

 

Papa,

Kasihan sekali.

Andai aku bisa membantumu pa,

Tapi aku pun tak berdaya dengan semua kenyataan ini.

Hhhhhhh.

 

“Pa…papa baik-baik saja kan?”

“Iya sayang, papa selalu baik, seperti Gadis lihat sekarang, papa sangat sehat. Absolutely fine!”

Jawabnya dengan logat campur English yang sangat fasih di telingaku. Ya, papa memang seorang dosen bahasa Inggris yang disayangi murid-muridnya karena sifatnya yang objective dan wise.

“Beneran? ” tanyaku setengah tak percaya.

“Iya sayang, beneran kok!” jawab papa lagi, kali ini ia menjawab dengan senyum yang sebisanya.

Pa..padalam keadaan begini masih saja berpura-pura.

“Syukurlah, Gadis ikut senang dengernya..” rasanya tak perlu memperpanjang masalah, jadi kuiyakan saja perkataan papa.

 

Hari ini berlalu begitu cepat. Hari yang sangat ajaib bagiku.

Aku masih tak percaya papa ada disampingku kini.

Rasanya ingin tersenyum terus. Bukan, bukan hanya senyum, tapi tertawa! Hari ini ingin rasanya tertawa lepas melihat keluarga kecilku berkumpul lagi. Meski masih kulihat ada kecanggungan antara mama dan papa, tapi aku senang karena tak melihat mereka bertengkar.

Tuhan, terimakasihterimakasih karena mengabulkan doaku.

 

 

 

1th April ‘15 at 14.03 pm

 

Dear diary,

Hari ini sepertinya aku sedang bermimpi,

mimpi kembali ke masa lalu, 3 bulan lalu.

Saat itu aku masih bisa bercengkrama, masih bisa tertawa lepas,

Saat itu aku adalah Gadis yang ceria bukan pemurung seperti ini,

Saat itu aku masih merasakan kehangatan mereka, kasih sayang mereka, mama dan papaku.

 

Tapi kini semua raib!

Seperti ditelan bumi, semua hilang tak berbekas.

Aku mencoba berteriak. Ya, ingin rasanya berteriak sekencang-kencangnya.

Aku kesakitan sendirian!

Tapi tak ada yang mengerti, tak ada yang mau mendengar!

Lalu untuk apa aku berteriak? Rasanya percuma saja.

Jadi aku memilih diam. Diam dalam kesakitanku.

Aku menjadi aneh,

menjadi pemurung dan penyendiri,

tak suka bicara apalagi tersenyum, bagiku itu hal yang tabu.

Aku frustasi!

 

Kenapa aku baru sadar sekarang?

kalau aku aneh. Bahkan sangat aneh untuk gadis seusiaku.

 

Hhhhhhhh

Tapi untuk apa?

Ini cuma sebulan kan?

Ini hanya hiburan yang melenakan, seperti yang biasa mama lakukan padaku.

Setelah itu semua akan sama. Semua akan menghilang lagi.

Papa kembali ke rumahnya, mama kembali dengan kesibukannya.

Dan aku, aku akan sama juga. Kembali tenggelam dalam dunia sepiku.

 

Oh diary, tolong aku.

Aku tak mau kesakitan lagi.

Tak mau sendirian lagi.

Katakan pada Tuhan, bujuklah Dia untukku,

aku mau merajuk pada-Nya,

aku mau mengemis pada-Nya,

agar Dia mau mengembalikan keutuhan keluargaku,

atau kalau aku memang harus mati hari ini, aku rela!

Asal Dia mau menyatukan lagi mama dan papaku.

Aku mencintai mereka, sungguh-sungguh cinta!

 

 

Entah kenapa aku jadi mengantuk.

Rasanya lelah sekali, mataku tak kuat lagi menahannya.

Aku tertidur dengan mata yang sembab dan air mata yang masih meleleh karena belum sempat kuseka tadi.

 

Aku merasakan sesuatu.

Sepertinya ada tangan lembut yang sedang mengelus-elus kepalaku. Ternyata itu tangan mama.

“Kenapa mama di sini?” tanyaku sambil mengusap-usap kedua mataku.

Hahhh? Diary-ku! Diary-ku ada di tangan kiri mama. Masih dalam keadaan terbuka. Bagaimana ini?

Mama pasti sudah membacanya! Oh My God habislah aku! Pasti mama akan memarahiku!

Banyak sekali tulisanku tentang mama di sana.

” Ma…maaf ma, bisa kuminta lagi diary-ku?” kataku terbata-bata, aku tak bisa lagi menyembunyikan raut mukaku yang pucat karena takut dan malu.

Tapi di depanku mama lebih aneh lagi. Mukanya pucat pasi, wajahnya sangat sedih. Ada rasa haru di sana. Mama menatapku dengan tatapan yang tak kumengerti.

“Maafkan Gadis ya ma, mama jangan marah ya? Mama ngomong dong. Jangan diam saja, jangan buat Gadis takut” aku mencoba merajuk.

“Sayang, maafkan mama…mama tidak tahu kalau semua kesedihan Gadis itu karena mama.”

Mama memelukku erat sekali, tangisnya tiba-tiba pecah memenuhi ruang kamarku.

Aku masih tak percaya, ini benar mamaku? Mama yang sibuk dengan dunianya, yang kukira tak lagi peduli padaku, sekarang dia menangis terisak-isak karenaku dan masih sempat berkata “maaf” atas semua yang kulakukan?

Padahal, tulisan di diary-ku itu bukan hanya tentang kebaikan mama, tapi juga tentang kemarahanku, tentang kejengkelanku padanya kerena tak lagi peduli padaku.

Ya Tuhan, aku jadi sangat menyesal karena prasangkaku.

 

Cukup lama mama terisak dalam tangisnya, ia tak juga melepaskan pelukannya dariku, bahkan semakin erat, sangat erat dan hangat. Aku tak tega melepasnya.

 

15 menit berlalu sudah.

Tangisnya kini mereda, mama melepaskan pelukannya dariku.

Kini kulihat wajahnya sangat dekat dengan wajahku, mungkin hanya berjarak 10 sampai 15 centimeter saja, terlihat jelas matanya yang sembab dan hidungnya yang memerah karena terlalu banyak menangis.

Ia menatapku dengan lembut dan penuh kasih.

Mama kumohon, jangan begitu. Membuatku semakin bersalah saja.

“Sayang, mama sayang sekali sama Gadis. Selama ini mama selalu mencari tahu, apa yang membuat Gadis berubah? Bahkan mama berpikir, kalau Gadis masih juga aneh, mama akan mencarikan psikiater agar Gadis kembali normal, tapi alangkah terkejutnya setelah mama tahu, kalau yang membuat Gadis jadi aneh adalah mama, karena masalah mama dan papa” mama kembali terisak.

“Sudahlah ma, mama jangan seperti ini, mama membuat Gadis jadi merasa bersalah”

“Gadis nggak salah. Mama yang salah! Mama janji, mulai sekarang mama akan berusaha jadi mama yang lebih baik buat Gadis, mama juga janji, mama akan berusaha rujuk sama papa”

“Beneran ma? Mama nggak lagi bohongin Gadis kan?” tanyaku serius.

“Nggak sayang, mama sungguh-sungguh!”

Ah, leganya mendengar mamaku berkata seperti itu.

Dulu aku pernah membaca sebuah artikel di majalah, “kasih sayang mama seluas samudera”

Sekarang, aku benar merasakannya, aku jadi malu dengan prasangkaku!

Mamaku adalah mama yang terbaik. Mamaku tak pernah berubah, aku yang salah karena aku menyimpan semuanya sendiri, aku yang salah karena aku tak pernah mau bicara jujur padanya, aku juga yang salah karena aku menjauhinya.

 

Mama,

Gadis janji, akan mencintai mama selamanya,

akan lebih menyayangi mama mulai sekarang,

akan menebus semua kesalahan Gadis dengan menjadi anak terbaik mama.

Dan, suatu hari kelak, Gadis akan membuat mama bangga!

 

“Sayang, kamu kenapa? Kenapa jadi senyum-senyum sendiri begitu? Membuat mama takut saja, jangan jangan…hiiii sereeeeemmm!”

“Aaaaaaah, mama apaan sih?”

“Ya habisnya, dari tadi senyum-senyum sendiri gitu. Nggak mau deket-deket ah, nanti nular hiiii…!”

Canda mama sambil menjauhiku.

“Mama mauu kemana? Nggak boleh lari ya? Emang Gadis nggak bisa ngejar mama?”

“Coba tangkap mama kalau bisa!”

Mama berlari menjauhiku, tapi berhasil juga kutangkap. Aku memeluknya dari belakang.

Cukup lama aku merasakan kehangatan dipelukannya.

“Gadis sayang mama, maafin Gadis ya ma.”

“Iya iya, dimaafkan, tapi seka dulu tuh airmatanya, jelek tau!”

Aku tersenyum dan mengangguk pelan.

Hari ini aku menemukan kembali mamaku yang hilang, mama yang penuh canda, mama yang hangat, mama yang penuh kasih dan sayang.

“Siapa itu Farhan?” tanya mama tiba-tiba.

“Heeee,,,hanya sahabat ma” aku jadi tersipu.

“Kenalin dong ke mama.”

“Iya deh, nanti dikenalin.”

 

Iklan

One thought on “Gadis – Farhan (Part 3)

  1. Reblogged this on Cinta1668 and commented:

    Hari ini….Gadis merasa malu, malu sekali pada sikap egois Gadis, sikap Gadis yang hanya mau memandang segala sesuatu dari satu sisi. Ya, sisi pembenaran. Seolah-olah hanya Garis saja yang menderita, hanya Gadis saja yang patut dikasihani dan butuh perhatian.

    Mama, maafkan Gadis. Setelah ini Gadis janji, akan menjadi anak kebanggaan mama, tidak akan membuat mama cemas dan menangis lagi. Janji!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s