Gadis – Farhan (Part 2)


Chapter 2 : Farhan, terimakasih

follow-up-thank-you-situations.jpg

Mendung ini akan segera pergi.

Berganti dengan keceriaan mentari yang kemilaunya bagai permata.

Indah, seindah hatiku yang kini tak lagi sunyi.

 

Farhan.

Perlahan namun pasti nama itu mulai mengusikku.

Sejak pertemuan hari itu aku semakin akrab dengannya, dan hari ini tepat dua minggu aku mengenalnya. Tak kusangka ia memberikan surprise yang membuatku terharu.

“Ambillah, ini hadiah untukmu…kau ulang tahun kan hari ini? ”

“Apa ini? Kecil sekali kadonya!” nadaku sedikit kecewa.

“Bukalah, nanti kau akan tahu isinya,,,” jawabnya dengan senyum.

“Hahhhh, tasbih? Untuk apa tasbih ini? Ah, dasar kau! Bilang saja kau tak punya uang, iya kan? Ini mah, Rp. 10,000,- juga dapat kali!” celotehku seenaknya. Begitulah aku, aku tak suka basa-basi dan aku juga tahu kalau Farhan bisa memaklumi sikapku yang menyebalkan ini.

“Jangan dilihat harganya, benar kau bisa mendapatkannya dengan uang Rp. 10,000,- saja tapi lihatlah niatnya” jawabnya datar.

Dan benar kan tebakanku? Ia tidak marah dan memaklumi sikapku.

“Memangnya niatmu apa dengan tasbih ini?” aku mengernyitkan kening.

“Kau kan aneh, suka murung, suka marah-marah, suka nangis dan sedih sendirian, dan banyak hal aneh lainnya, makanya daripada kau lakukan hal yang aneh-aneh, mending baca tasbih ini saja nona, tiap kali kau sedih, marah atau murung, cobalah kau baca, kau akan menemukan kedamaian dan jauh dari sifat-sifat negatif itu.”

Ternyata masih ada yang mau peduli padaku, thanks God and thanks to you Farhan.

“Enak saja kau bilang aku aneh. Kau yang aneh. Hari gini baju masih putih-putih saja, jadul banget sih! Emang nggak ada model yang lain apa? Dan bau wangi ini, meskipun sangat enak di hidungku tapi terkesan agak mistis. Hiiiiii…seremmmm. Kayak hantu saja!” aku tak mau kalah dengannya.

“anytime nona”

Hah, kenapa Farhan bisa mendengar isi hatiku? Ini bukan pertama kalinya ia menjawab suara hatiku. Ini sudah yang ke-3 kalinya. Hmmmm, sepertinya aku harus hati-hati dengannya.

“Kau barusan baca hatiku ya? Kok tahu aku bilang terimakasih?”

“Hehehe, ada-ada saja kau ini nona, dimana-mana yang namanya orang dikasih hadiah itu ujung-ujungnya akan bilang terimakasih, terus apa salahnya kalau aku bilang anytime duluan? Mana mungkin aku bisa baca hatimu, aku tak sehebat itulah.”

“Tapi kau sudah sering begitu, menjawab suara hatiku padahal aku belum mengatakannya, kau tidak sedang berbohong padaku kan?”

“Sudahlah, tak perlu dibahas, ganti topik saja ya, OK?! Oh iya, apa kau sudah mendapat hadiah dari mama-mu? Kenapa tak kau gunakan saja moment ini untuk menyatukan mereka kembali? ”

Farhan mengalihkan pembicaraan. Tapi tak apalah, itu juga haknya kalau ia tak mau menjawab pertanyaanku, lagipula kupikir lebih baik jika ia tahu isi hatiku, karena dengan begitu ia tak perlu banyak tanya dan bisa menyesuaikan diri dengan sifatku yang dianggap aneh ini.

“Apa mungkin?” jawabku singkat.

“Tidak ada yang tidak mungkin nona”

“Bagaimana caranya? ”

“Kalau itu, aku yakin nona lebih tahu”

Aku terdiam, memikirkan ucapan Farhan barusan. Kenapa tidak kucoba? Toh kalau tidak berhasil aku tidak akan rugi apa-apa karena aku sudah terbiasa begini “sendiri”. Dan kalau berhasil, bukankah aku akan kembali menemukan kasih sayang mamaku yang lama hilang?

“Gadis…Gadis”

Sayup-sayup suara mama terdengar dari kejauhan. Tumben mamaku mau datang ke tempat ini?

Ups, tapi di sini kan ada Farhan, apa nanti mama akan memarahiku karena bermain dengan pemuda asing? Terlebih lagi Farhan tak pernah meminta ijin mama ketika menemuiku karena ia selalu naik pintu gerbang tiap kali datang ke sini.

Atau…

Lebih baik aku kenalkan saja Farhan pada mama, biar mama juga tahu kalau aku sudah memiliki teman baru sekarang, seorang teman yang tidak menganggapku aneh.

Ah, mama..

Kenapa mama tak juga sadar kalau semua keanehan yang terjadi padaku ini karenamu?

Karena mama tak lagi peduli padaku,

karena mama tak lagi peduli pada papa,

karena kalian selalu bertengkar,

Karena mama lebih memilih bercerai daripada berpisah dengan rutinitas mama.

Tuhan kumohon, buatlah mamaku sadar suatu hari nanti, sebelum aku kembali tenggelam dalam dunia sepiku, amin.

“Iya ma, Gadis di sini…” aku segera menjawab panggilan mama.

“Sayang, kenapa sendirian di sini? Ini kan hari libur, mainlah ke rumah teman-teman gadis…”

“Untuk apa aku main dengan semua orang yang menganggapku aneh? Itu menyebalkan!”

“Hhhhh, ya sudah kalau tidak mau, tapi bisa kan menjawab tanpa nada ketus begitu?”

“Oh iya ma, ini ada…..” aku tak melanjutkan ucapanku. Kemana anak itu? Ah, dasar Farhan! Mau kukenalin sama mama malah kabur duluan!

“Kenapa sayang?”

“Nggak ma, nggak ada apa-apa, nggak jadi…”

“Sayang, hari ini kan ultahmu, gimana kalau nanti malam kita adakan pesta yang meriah, Gadis undang semua teman Gadis, biar tambah rame gimana?”

“Nggak mau, males!”

Kulihat mama menghela nafas, aku berhasil membuatnya bingung lagi kali ini. Dan aku senang!

“Sampai kapan mau seperti ini sayang, berubahlah. Jangan membuat mama cemas”

Kulihat tangan lembutnya hampir menyentuh rambutku tapi aku mengelak! Aku tak suka dengan sentuhan itu. Bagiku itu sentuhan palsu, sentuhan yang hanya datang ketika aku menolak keinginannya, ketika aku membangkang, tapi ketika aku kembali menjadi anak yang penurut sentuhan yang melenakan itu segera hilang. Pergi menjauh entah kemana.

KALAU MAU MENYENTUHKU, SENTUHLAH AKU SELAMANYA MA… JANGAN MEMPERMAINKAN PERASAANKU SEPERTI INI! Aku berteriak sekencang-kencangnya dalam hati.

Aku terdiam….memikirkan perkataan Farhan tadi, kenapa tidak kucoba menyatukan mereka?

“Emmmm, sebenarnya Gadis punya keinginan ma, tapi Gadis nggak yakin apa mama bisa” jawabku sedikit pesimis.

“Apa itu sayang?”

“Gadis mau mama dan papa tinggal serumah lagi selama sebulan tanpa bertengkar,bisa?”

“Sayang, itu tidak mungkin. Mama dan papa kan mau bercerai, minta yang lain saja, atau Gadis mama beliin mobil baru saja ya? Mobil Gadis kan udah lama, mau kan sayang?” bujuk mama.

“Gadis nggak suka mobil! Nggak suka rumah ini! Nggak suka semua harta mama! Kalau pun ada hal yang Gadis suka, hanya kebun ini, Gadis suka berlama-lama di sini tapi itu pun membuat mama berpikir kalau Gadis aneh!” kali ini ini aku berbicara dengan nada tinggi.

oh God forgive me.

Lagi-lagi mama berusaha menyentuhku.

“Jangan sentuh Gadis. Maaf, Gadis ingin sendirian saja di sini, mama pergilah…”

Mama pergi tanpa menoleh padaku lagi, sempat kulihat gurat sedih di wajahnya.

Mama maaf, sebenarnya Gadis hanya ingin mencari perhatian mama, dengan begini setidaknya mama akan memikirkan Gadis dan tidak hanya sibuk dengan pekerjaan mama.

 

 

 

4th week of March ‘15 at 11.23 pm

 

Dear Diary,

Hari ini aku mendapat kado kecil dari Farhan.

Sebuah tasbih berwarna kuning keemasan, ia berpesan padaku agar aku membaca dzikir setiap kali aku merasa jengah atau gundah.

Dan benar, aku menemukan kedamaian di sana

Rasanya lebih indah daripada pelukan hangat mama yang selama ini kurindukan,

lebih hangat dari mentari pagi yang kilaunya tak pernah lelah menyinari bumi,

juga lebih sejuk dari air sungai di kebun kecilku yang hampir tiap hari menyentuh kakiku.

 

Tapi,

aku telah membuat mamaku bersedih lagi. Aku membentaknya lagi!

Oh Diary, seandainya kau tahu perasaanku waktu itu.

Waktu membentak mamaku, aku sangat terluka!

Aku adalah bagian dari darahnya, bagaimana mungkin aku tidak terluka saat bagian dari diriku juga terluka?

Mama maaf, aku selalu mencintaimu ma,

aku hanya ingin kita kembali seperti dulu.

Ada aku, mama, dan papa.

 

Dear diary,

doakan aku,

doakan agar mama memenuhi kado ultahku hari ini,

aku rindu suasana itu,

rindu kebersamaan itu,

rindu kehangatan itu,

rindu tawa riang mama dan papa yang saling mencinta,

aku rindu keluarga kecilku yang bahagia,

aku sangat merindukannya!

 

 

Malam semakin larut, sepi sekali rasanya.

Kubuka jendela kamarku, aku bisa melihat kebun kecilku dari sini.

Samar-samar terdengar suara orang mengaji. Itu seperti suara Farhan.

Mungkin ia sedang mengaji di musholaku, ia pernah pamit agar aku memperbolehkannya berdoa di musholaku.

Oh, Farhan, suaramu indah sekali.

Kembali kulantunkan pujian pada-Nya dalam hati.

Rasanya sangat tenang dan sejuk di hatiku.

Terimakasih Tuhan, telah Engkau pertemukan aku dengan makhluk indah itu.

Dan terimakasih Farhan, telah bersedia menjadi sahabatku.

 

Angin yang dingin ini kembali menyentuh kulitku, membelai-belai rambut panjangku yang sengaja kubiarkan terurai. Sejuk dan dingin.

Tanpa sadar aku pun tersenyum. Senyum yang sudah lama hilang dari wajahku ini muncul lagi.

Apa karena Farhan?

Atau karena angin malam yang sejuk ini?

Atau karena seharian ini aku membaca kalimat-kalimat-Nya yang maha indah?

Entahlah, aku tak tahu. Perasaan ini sulit kulukiskan.

Iklan

One thought on “Gadis – Farhan (Part 2)

  1. Reblogged this on Cinta1668 and commented:

    “Hai Gadis, apa kabar hari ini?”

    “Ngapain nanya-nanya? Kamu tahu kan, Gadis paling nggak suka ditanya-tanya sama orang asing!”

    “Bukan gitu..aku cuma ingin tahu, sambungan cerita yang kemarin.”

    “Ooooohhh itu… masih sama koq, Gadis masih pemurung, masih butuh Farhan, masih butuh nasehat dan petuah bijaknya, sungguh, ia bagai embun yang selalu ingin kutemui di pagi hari, sejuk dan melegakan!”

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s