Gadis – Farhan


Chapter 1 – Namanya Farhan

boy,couple,cute,girl,man,pink-5a31512c9a1be76dc859e090b6aaec3a_h

Aku tak lagi seperti dulu,

semua sudah berubah!

Perubahan yang tak kumengerti,

perubahan yang menyebalkan,

perubahan yang membuatku muak,

perubahan yang sama sekali tak penting namun begitu menyita hidupku,

perubahan yang…

Ah, sudahlah!

Berapapun kata yang kutulis rasanya tak mampu meluapkan seluruh kekesalanku…Kekesalanku pada hidup!

 

Aku lelah!

Karena itu aku lebih memilih diam. Aku lebih suka merenung sendirian, aku lebih suka bercengkrama dengan semua ornament-ornament cantik di kebun kecilku daripada dengan orang-orang itu.

Mereka takkan mampu mencerna hidupku, mereka hanya bisa melihat dari luarnya saja.

Ya, mereka mengira aku bahagia dengan semua ini, dengan sebuah benda yang disebut HARTA.

Tuhan, kenapa lima huruf itu begitu menyita hidupku? Menyita keutuhan keluargaku?

Semuanya jadi berantakan. Kenapa?

 

Huffttttttt.

Tak terasa bulir ini jatuh lagi dari kelopak mataku, membasahi sungai kecil di depanku entah untuk keberapa kalinya. Hanya kebun ini tempat yang membuatku nyaman. Sebuah kebun kecil hadiah ultahku tahun kemarin, hadiah terindah dari mama. Sejak itu, aku selalu berada di sini sepulang kuliah. Berlama-lama di sini sangat membuatku nyaman. Ada sebuah mushola kecil di kebun ini, tempat aku bermunajah pada-Nya, tempat aku mengadukan semua kekesalanku pada Robb ku, tempat aku menangis, dan tempat aku berkeluh kesah. Lalu di sekelilingnya penuh dengan bunga-bunga berwarna-warni, ada juga sungai kecil di sini lengkap dengan bambu-bambu buatan yang membuat suara airnya semakin gemericik ketika bersentuhan dengan bambu-bambu itu.

 

Aku menunduk.

Menghanyutkan kedua kakiku ke dalam air sungai sampai selutut, rasanya sangat nyaman.

“Hai ikan, sedang apa kau di sana? Sepertinya sangat bahagia, ada mama, ada papa, aku ikut kalian saja! Sepertinya kalian lebih mengerti tentang aku, kalian mau mendekatiku, bahkan mau bermain-main dengan kakiku, tidak seperti teman-temanku yang menganggapku makhluk aneh. Tak ada satupun yang mau mendekat padaku,  entah apa yang di benak mereka aku tak tahu. Kadang, samar-samar aku mendengar mereka berbisik tentangku “cewek aneh itu”, “cewek frustasi itu”, “cewek pemurung itu” begitu mereka menyebutku.”

Tuhan…aku tidak gila! Aku hanya sedang kesal pada dunia.

Lagi… aku menangis lagi.

“Tuhan, tolonglah aku…Hadirkanlah seseorang untukku, seseorang yang mau mengerti aku, seseorang yang mau mendengar keluh kesahku, seseorang yang membuatku nyaman dan tidak malu untuk mencurahkan semua isi hatiku, seseorang yang bisa membuatku keluar dari rasa yang mengurung jiwa ini.

 

Bau ini lagi, bau wangi ini lagi. Hhhhhh, kenapa tiap kali aku menangis selalu muncul bau wangi ini? Bau wangi yang mirip kayu cendana. Bahkan akhir-akhir ini baunya semakin menyengat di hidungku. Tapi tak apalah, karena bau ini sangat enak hampir mirip dengan aroma terapi, jadi kuhirup saja.

 

“Selamat pagi.”

Suara itu mengagetkanku.

Aku segera menoleh, dan kutemukan sosok yang indah di sana.

Sosok pemuda yang tampan. Sangat rupawan berpakaian serba putih, di bibirnya tersungging senyum yang indah. Baru aku sadar, ternyata bau wangi itu berasal dari dirinya.

“Iya pagi” segera kujawab salam darinya.

“Kau siapa? Kenapa bisa berada di sini? Bagaimana kau bisa masuk? Pintu gerbang rumahku sangat tinggi” tanpa basa-basi aku memberondongnya dengan semua pertanyaanku.

“Hehehe sebelumnya terimakasih sudah mau menjawab salamku. Tapi satu-satu dong nona kalau nanya, aku kan bingung jawabnya. Namaku Farhan, aku tinggal di sebelah rumahmu, kalau masalah naik-naik gerbang mah itu gampang, aku kan cowok jadi nggak usah heran kalau aku bisa melompati pintu gerbang rumahmu yang tinggi itu” kulihat dia menjawab semua pertanyaanku dengan senyum lagi, senyumnya sangat menawan. Kalau bukan aku pasti sudah langsung klepek-klepek dibuatnya. Tapi aku, aku malah tidak suka melihat senyum itu, senyumnya seperti membius.

Kenapa dia tidak menanyakan namaku ya? Ah, masa bodoh! Aku juga tidak peduli.

“Mau apa kau di sini?” tanyaku lagi

“Kau menggangguku dengan suara tangismu itu nona, makanya aku ke sini, yah, siapa tahu saja ada yang bisa kubantu untuk meringankan bebanmu. ”

“Jangan sok tahu ya! Aku nggak suka dengan orang-orang seperti kamu!” jawabku ketus.

“Hehe, jawabnya kok gitu? Nona….nona…cantik-cantik kok ketus gitu, aku kan bertanya baik-baik. Dan aku bukannya sok tahu nona, dari kemarin aku sudah melihatmu di sini menangis dan merenung sendirian, aku juga mendengarmu berdoa, yah anggap saja aku ini seorang teman yang ingin membantumu” Farhan mencoba meyakinkanku.

Kulihat lagi dengan jeli semua penampilannya, dari atas sampai bawah, aku juga memperhatikan wajahnya, sepertinya tidak ada aura jahat yang keluar dari tubuhnya. Malah sangat kental dengan aura kebaikan.

“Apa benar kau mau mendengar ceritaku? Apa kau bisa menjaga rahasiaku?” tanyaku dengan serius.

“Bisa…”

Maka mulailah aku bercerita.

Tentang perubahan drastis yang terjadi hampir 1 tahun ini. Mama yang dari segi ekonomi merasa lebih mampu hingga meyepelekan posisi papa sebagai kepala keluarga, pertengkaran demi pertengkaran pun terjadi. Dan puncaknya satu bulan yang lalu mamaku memutuskan bercerai dari papa.

Ironis sekali kalau dipikir-pikir, semua itu terjadi karena uang. Uang yang mama bangga-banggakan itu membuatku sangat jijik. Aku tak suka dengan semua kemewahan ini kalau aku tak lagi bisa merasakan tangan lembutnya membelaiku, merasakan hangat tubuhnya mendekapku, merasakan kehadirannya saat aku sedih dan sendiri, merasakan kasih sayangnya yang dulu begitu hangat menyentuhku. Oh Tuhan, kemana mamaku yang dulu? Kemana mamaku yang hangat itu pergi? Kenapa sekarang ia menggantikan posisinya dengan uang? Selalu bilang “Sebutkan apa yang kau inginkan sayangku, pasti mama akan belikan, tapi jangan minta mama menemanimu saat ini, mama sibuk sekali sayang, pekerjaan di kantor sudah menunggu, maaf…”

Kenapa, kenapa ia begitu sibuk dengan pekerjaannya! Hingga melalaikan kami, aku dan papa.

Huuuuhhhhhh.

 

Lega rasanya setelah bercerita. Meski tanpa sadar, tangisku kembali meledak di tengah-tengah ceritaku.

Aneh.

Kenapa aku bisa menangis di hadapannya? Padahal aku baru mengenalnya? Kenapa aku tidak merasa asing padanya? Entahlah, aku tak mau berkutat pada masalah yang menurutku tak begitu penting.

 

 

 

9 March ‘15 at 11.00 pm

 

Dear Diary,

hari ini aku merasakan hal yang baru. Setelah aku dianggap aneh oleh teman-temanku, akhirnya aku normal juga di hadapan seseorang. Aku senang sekali!

Namanya Farhan, ia kini resmi jadi teman curhatku, kuharap besok akan bertemu lagi dengannya.

Tapi,

ada yang aneh dengannya. Dari tubuhnya tercium bau wangi yang mirip kayu cendana.

Tadi iseng-iseng kutanyakan, ia malah bilang “setiap makhluk punya bau wangi tersendiri, itu tergantung dari jiwanya yang bersih, semakin bersih jiwamu kau akan semakin wangi. Aku yakin, suatu saat kau juga akan punya wangi tersendiri, wangi yang pastinya berbeda denganku”

Aneh kan jawabnya?

Terus yang lebih aneh, saat kutanya umurnya, Farhan malah menjawab sambil tertawa

“umurku sudah sangat tua nona, kau takkan percaya, jadi lebih baik aku rahasiakan saja”

Aneh kan?

Tapi sudahlah, kenapa aku harus ambil pusing?

Toh semua orang juga punya keanehan tersendiri, seperti aku, semua temanku juga bilang aku aneh karena aku lebih suka bermain-main dengan alam daripada dengan mereka.

Jadi apa salahnya jika Farhan juga aneh?

Mungkin juga karena keanehan ini kita bisa berteman, teman yang sama-sama aneh.

 

Dear Diary,

Sampaikan terimakasihku pada Tuhan, kerena hari ini Dia telah menghadirkan Farhan untukku… dan tolong sampaikan juga agar Dia tidak mengambilnya seperti saat Dia mengambil kasih sayang mamaku.

 

 

Kuseka air mata yang menetes di diary ku, dan kututup buku itu dengan bait ini,

 

Tak apalah jika sekarang kau harus pergi mama,

tapi suatu saat kembalilah, aku rindu mama,

aku yakin papa juga rindu,

aku akan menunggu,

Menunggu mama kembali sampai kapanpun!

Iklan

4 thoughts on “Gadis – Farhan

  1. Reblogged this on Cinta1668 and commented:

    Ini cerbung pertamaku yang terinspirasi dari mimpi, mimpi yang terus-menerus kualami dan tak mau pergi, kupikir itu semacam mimpi hidup, karena begitu kutulis sebagai cerbung, mimpi itu langsung pergi!

    Selamat membaca 😊

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s