Cokelat


COKELAt-tokomesin-

Cokelat…

Kau benar mirip sepertinya, manis-gelap-lembut-langka-melegakan.

Orang bilang, cokelat adalah simbol dari Cinta. Cokelat yang menurut ahli sejarah pertama kali ditemukan pada zaman peradaban suku Maya dan Aztec. Cokelat pada masa itu adalah komoditas yang berharga, minuman yang terbuat dari cokelat hanya dapat dikonsumsi oleh keluarga kerajaan, lalu seiring waktu, cokelat mulai dinikmati rakyat jelata.

Mungkin karena alasan itulah, aku memanggilmu Cokelat.

“Hei, bagaimana kalau sekarang kita buat panggilan sayang” ideku suatu ketika aku menelponnya.”Habis, aku suka ngiri sama teman-temanku yang punya panggilan sayang buat pacarnya, aku kan juga pengin.”

“Haha, ada-ada saja kau sayang”

“Tuh kan sayang lagi? Aku tuh paling nggak suka kalau dipanggil sayang, kesannya itu gombal banget, tau nggak sih?”

“Iya deh sayang, mau aku panggil apa, Cinta seperti namamu?”

“Ah itu apalagi!” Aku menggerutu.

“Ya udah, kamu maunya dipanggil apa sayangku…” suaranya memelan di telepon, suara yang selalu kurindukan šŸ™‚

“Hmmm, koq jadi aku yang mikir sih? harusnya kamu dong yang mikir, nanti aku yang mikir panggilan buat kamu, gimana?”

“Okeh, hmmm karena Cinta suka kangen sama aku, gimana kalau aku panggil Rindu?”

“Idiiiih GR banget sih!” Aku mengelak.

“Biarin GR tapi iya kan?”

Aku cuma tersenyum menanggapinya. Aku pikir, apa salahnya tersenyum? Toh ia nun jauh di sana dan tidak melihatku, iya kan?

“Udah ah jangan dibahas, sekarang giliranku ya, aku panggil kamu apa yah kira-kira biar nyambung dengan kata Rindu?” Aku memain-mainkan telunjuk jariku sambil memegang HP.

“Gimana sayang, koq lama banget mikirnya?”

“Cokelat!” Celetukku.

“Apa? Cokelat? Yang benar saja sayang, apa karena kulitku segelap cokelat jadi kamu panggil aku cokelat? Wuah bener-bener nih jahat!”

Ia menolak terang-terangan ideku hingga aku harus menjelaskannya panjang lebar.

“Bukan gitu, bagiku kamu itu biar hitam tapi manis, kamu juga lucu, langka, unik”

“Hmmm, gitu yah, berarti cocoknya aku tuh ditaruh di museum dunk, kan antik” Ia malah berkelakar.

Sebenarnya ada lagi sih, kamu tuh lembut dan melegakan, selalu bisa membuat amarahku reda, dan kamu satu-satunya orang yang tidak pernah marah meski aku mengumpat dengan kata-kata kasar, tapiiiii cukup hatiku saja yang tahu yah, aku nggak mau kamu tambah GR nanti.

“Sayang…koq diem? Biasanya ketawa, kenapa sayang? Becandaanku garing ya?”

“Nggak koq, hanya sedang mikir aja”

“Mikir apa? Kangen ya pengin ketemuan lagi?” Katanya mencoba merayu. “Sabar ya sayang, nanti kalau aku libur, aku pasti main ke rumahmu.”

“Aku tuh lagi mikir, kamu tuh koq item banget yah, hidup lagi! Hahaha.”

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s